Mungkin banyak yang mempertanyakan mengapa Rumah Budaya Denpasar sedemikian saya wujudkan di dalam konsep desain yang diikutsertakan dalam kompetisi arsitektur nusantara yang diselenggarakan oleh Propan beberapa waktu yang lalu. Rumah Budaya Denpasar masuk dalam 35 besar karya pilihan yang dibukukan dalam Eksplorasi Desain Arsitektur Nusantara yang ditulis oleh editor, Prof. Dr. Ir. Josef Prijotomo, M.Arch. telah juga dipublikasi oleh kompas gramedia beberapa waktu yang lalu.



Di dalam buku tersebut, editor menarasikan karya saya sebagaimana berikut: "Tak hanya karena keelokan alamnya, Pulau Bali kerap kali dikenal dunia mancanegara, karena kekentalan budaya dan adat istiadatnya. Sayangnya, seiring dengan pesatnya perkembangan ekonomi dan pariwisata di Bali, kelestarian budaya lokal mulai dipertanyakan. Andre Pradiktha menyadari hal ini. Oleh karena itu, Andre memutuskan untuk merancang Rumah Budaya Denpasar, yang berfungsi sebagai wadah kegiatan budayan lokal, yang merefleksikan kehidupan sosial masyarakat Bali belakangan ini, sekaligus menjadi "pengingat" atas identitas Nusantara yang bisa menghilang di masa depan. Dalam perancangan bangunan ini, Andre hanya memanfaatkan area sebesar 500m2 sebagai lahan bangunan yang mengalami perkerasan, meskipun sebenarnya, terdapat total sekitar 1300m2 lahan kosong yang tersedia. Dengan konsep ini, Andre bisa tetap mempertahankan ruang terbuka hijau di area tersebut. Bangunan rumah budaya ini terdiri atas tiga lantai yang memiliki beragam fungsi. Lantai pertama dirancang sebagai area galeri. Di sekelilingnya terdapat pula taman (ruang terbuka hijau), ruang pengelola, dan area servis. Dua lantai berikutnya dimanfaatkan sebagai ruang serba guna dan area perpustakaan. Area-area di lantai 2 dan lantai 3 dirancang khusus pula sebagai tempat diskusi dan presentasi seminar. Konsep struktur yang mengusung lokalitas pun diterapkan dalam bangunan ini, berpadu dengan sistem konstruksi yang banyak ditemukan di bangunan modern. Contohnya, penggunaan bambu petung berdiameter 12 cm sebagai elemen pembungkus dari kolom utama, meskipun struktur di dalamnya tetap menggunakan pengecoran semen serta tulangan besi ulir. Andre menggunakan bambu sejumlah 4 lonjor. Di dalam kolom bambu, terdapat pula celah bagi instalasi pipa kabel. Alhasil, tak hanya berguna secara estetis dan kekuatan, bambu bisa menjadi salah satu cara efisiensi ruang pada perancangan ini."
Orang Bali asli memang datang dari "Pacific Rim" dengan ras yang mirip pencampuran antara Afrika, Arab/Kaukas dan Mongol yang mendiami kepulauan di lautan pasifik yang kemudian saat ini lebih akrab dengan sebutan "Siam/Melayu". Iklim tropis, kulit sawo matang dan banyaknya pulau, mendorong orang Bali untuk menguasai teknologi kapal laut, yang banyak memanfaatkan bahan kayu sebagai material utamanya, terutama kayu kelapa di pesisir pantai. Setelah orang Bali berpindah dari budaya nomaden ke sedenter, mereka mulai tinggal di gunung, mencari makanan di hutan dan binatang buruan. Saat itu arsitektur Bali asli bisa dilihat sebagai Bali Aga, menggunakan batu kali/apung, kayu kelapa sebagai kolom dan penutup, serta serabutnya sebagai atap. Mereka belajar arsitektur tentunya dari nenek moyangnya yang akrab dengan suasana pantai dan iklim tropis. Namun kondisi gunung yang lembab ternyata berbeda dengan pantai, sehingga mereka harus mendulang lebih banyak batu untuk menutupi pemukiman mereka. Sebagaimana teknologi terus berkembang, kebudayaan Melayu dan Hindu India pun datang. Yang paling besar pengaruhnya ke Bali adalah saat era kerajaan Majapahit dari Jawa. Saat itu tanah pun dapat diolah menjadi bata merah, dan batu dari tanah lain kerap digunakan orang bali untuk merepresentasikan arsitektur, tanah liat, pasir vulkanis, batu paras, dan pasir pantai di eksplorasi sebagai arsitektur. Hingga akhirnya di zaman modern, kolonial membawa teknologi beton dengan tingkat kerumitan olahan yang jauh lebih tinggi dari tanah liat atau pasir. Baja dan kaca menjadi akhir hayat dari kebudayaan Bali yang dapat dilihat belakangan ini, sebagaimana arsitektur "global"/"internasional" masuk ke Bali. Orang bali pun memang tidak dapat mengelak dari perubahan, sebagaimana umat manusia lainnya. Yang abadi itu hanyalah perubahan.

Lalu apa korelasinya dengan Rumah Budaya Denpasar?
Rumah Budaya Denpasar yang saya rancang ini memang benar adanya sebagai pengingat budaya ibu kita, istilahnya nenek-nya-nenek-dari-moyang kita. Jauh sebelum budaya kerajaan ada, setelah manusia mulai keluar dari goa sebagai arsitektur pemukimannya.
Kita harus sadar pada arsitektur akar, sebelum ada papan dan setelah manusia memenuhi pangan, manusia memenuhi kebutuhan akan sandang, disanalah "ide-ide" mulai mucul, melihat dari alam, khususnya burung yang membuat sarangnya dengan merajut, manusia mulai bisa merajut dedaunan, menjadikannya seperti kain layaknya kulit hewan yang mereka pernah pakai sebagai baju. Dari daun, mereka mulai tertarik ke area batang, dan kayu lah yang digunakan sebagai arsitektur bangunan yang utama, di samping batu yang pada saat itu merupakan "raw material" atau bahan mentah tanpa olahan yang mereka dapat cari dengan mata telanjang.
Budaya ibu inilah yang berusaha dituangkan dari Rumah Budaya Denpasar. Rajutan bambu tali layaknya sebuah sangkar burung, mengingatkan pada arsitektur klasik yang orisinal, bukan dengan manifestasi candi yang ada pada zaman lebih maju, atau bentuk limasan sebagai atap kebanyakan. Saat melihat sosok arsitektur Rumah Budaya Denpasar, kita jadi teringat betapa drastisnya perubahan di sekeliling kita, dan akan terbesit dalam benak kita, bahwa benar, perubahan lah yang abadi.
Tulisan oleh: Andre Pradiktha
Panel-panel dalam kompetisi: