Wednesday, September 24, 2014

Rumah Budaya Denpasar pada Kompetisi Arsitektur Nusantara Propan

Mungkin banyak yang mempertanyakan mengapa Rumah Budaya Denpasar sedemikian saya wujudkan di dalam konsep desain yang diikutsertakan dalam kompetisi arsitektur nusantara yang diselenggarakan oleh Propan beberapa waktu yang lalu. Rumah Budaya Denpasar masuk dalam 35 besar karya pilihan yang dibukukan dalam Eksplorasi Desain Arsitektur Nusantara yang ditulis oleh editor, Prof. Dr. Ir. Josef Prijotomo, M.Arch. telah juga dipublikasi oleh kompas gramedia beberapa waktu yang lalu.



Di dalam buku tersebut, editor menarasikan karya saya sebagaimana berikut: "Tak hanya karena keelokan alamnya, Pulau Bali kerap kali dikenal dunia mancanegara, karena kekentalan budaya dan adat istiadatnya. Sayangnya, seiring dengan pesatnya perkembangan ekonomi dan pariwisata di Bali, kelestarian budaya lokal mulai dipertanyakan. Andre Pradiktha menyadari hal ini. Oleh karena itu, Andre memutuskan untuk merancang Rumah Budaya Denpasar, yang berfungsi sebagai wadah kegiatan budayan lokal, yang merefleksikan kehidupan sosial masyarakat Bali belakangan ini, sekaligus menjadi "pengingat" atas identitas Nusantara yang bisa menghilang di masa depan. Dalam perancangan bangunan ini, Andre hanya memanfaatkan area sebesar 500m2 sebagai lahan bangunan yang mengalami perkerasan, meskipun sebenarnya, terdapat total sekitar 1300m2 lahan kosong yang tersedia. Dengan konsep ini, Andre bisa tetap mempertahankan ruang terbuka hijau di area tersebut. Bangunan rumah budaya ini terdiri atas tiga lantai yang memiliki beragam fungsi. Lantai pertama dirancang sebagai area galeri. Di sekelilingnya terdapat pula taman (ruang terbuka hijau), ruang pengelola, dan area servis. Dua lantai berikutnya dimanfaatkan sebagai ruang serba guna dan area perpustakaan. Area-area di lantai 2 dan lantai 3 dirancang khusus pula sebagai tempat diskusi dan presentasi seminar. Konsep struktur yang mengusung lokalitas pun diterapkan dalam bangunan ini, berpadu dengan sistem konstruksi yang banyak ditemukan di bangunan modern. Contohnya, penggunaan bambu petung berdiameter 12 cm sebagai elemen pembungkus dari kolom utama, meskipun struktur di dalamnya tetap menggunakan pengecoran semen serta tulangan besi ulir. Andre menggunakan bambu sejumlah 4 lonjor. Di dalam kolom bambu, terdapat pula celah bagi instalasi pipa kabel. Alhasil, tak hanya berguna secara estetis dan kekuatan, bambu bisa menjadi salah satu cara efisiensi ruang pada perancangan ini."


Orang Bali asli memang datang dari "Pacific Rim" dengan ras yang mirip pencampuran antara Afrika, Arab/Kaukas dan Mongol yang mendiami kepulauan di lautan pasifik yang kemudian saat ini lebih akrab dengan sebutan "Siam/Melayu". Iklim tropis, kulit sawo matang dan banyaknya pulau, mendorong orang Bali untuk menguasai teknologi kapal laut, yang banyak memanfaatkan bahan kayu sebagai material utamanya, terutama kayu kelapa di pesisir pantai. Setelah orang Bali berpindah dari budaya nomaden ke sedenter, mereka mulai tinggal di gunung, mencari makanan di hutan dan binatang buruan. Saat itu arsitektur Bali asli bisa dilihat sebagai Bali Aga, menggunakan batu kali/apung, kayu kelapa sebagai kolom dan penutup, serta serabutnya sebagai atap. Mereka belajar arsitektur tentunya dari nenek moyangnya yang akrab dengan suasana pantai dan iklim tropis. Namun kondisi gunung yang lembab ternyata berbeda dengan pantai, sehingga mereka harus mendulang lebih banyak batu untuk menutupi pemukiman mereka. Sebagaimana teknologi terus berkembang, kebudayaan Melayu dan Hindu India pun datang. Yang paling besar pengaruhnya ke Bali adalah saat era kerajaan Majapahit dari Jawa. Saat itu tanah pun dapat diolah menjadi bata merah, dan batu dari tanah lain kerap digunakan orang bali untuk merepresentasikan arsitektur, tanah liat, pasir vulkanis, batu paras, dan pasir pantai di eksplorasi sebagai arsitektur. Hingga akhirnya di zaman modern, kolonial membawa teknologi beton dengan tingkat kerumitan olahan yang jauh lebih tinggi dari tanah liat atau pasir. Baja dan kaca menjadi akhir hayat dari kebudayaan Bali yang dapat dilihat belakangan ini, sebagaimana arsitektur "global"/"internasional" masuk ke Bali. Orang bali pun memang tidak dapat mengelak dari perubahan, sebagaimana umat manusia lainnya. Yang abadi itu hanyalah perubahan.



Lalu apa korelasinya dengan Rumah Budaya Denpasar?

Rumah Budaya Denpasar yang saya rancang ini memang benar adanya sebagai pengingat budaya ibu kita, istilahnya nenek-nya-nenek-dari-moyang kita. Jauh sebelum budaya kerajaan ada, setelah manusia mulai keluar dari goa sebagai arsitektur pemukimannya.
Kita harus sadar pada arsitektur akar, sebelum ada papan dan setelah manusia memenuhi pangan, manusia memenuhi kebutuhan akan sandang, disanalah "ide-ide" mulai mucul, melihat dari alam, khususnya burung yang membuat sarangnya dengan merajut, manusia mulai bisa merajut dedaunan, menjadikannya seperti kain layaknya kulit hewan yang mereka pernah pakai sebagai baju. Dari daun, mereka mulai tertarik ke area batang, dan kayu lah yang digunakan sebagai arsitektur bangunan yang utama, di samping batu yang pada saat itu merupakan "raw material" atau bahan mentah tanpa olahan yang mereka dapat cari dengan mata telanjang.
Budaya ibu inilah yang berusaha dituangkan dari Rumah Budaya Denpasar. Rajutan bambu tali layaknya sebuah sangkar burung, mengingatkan pada arsitektur klasik yang orisinal, bukan dengan manifestasi candi yang ada pada zaman lebih maju, atau bentuk limasan sebagai atap kebanyakan. Saat melihat sosok arsitektur Rumah Budaya Denpasar, kita jadi teringat betapa drastisnya perubahan di sekeliling kita, dan akan terbesit dalam benak kita, bahwa benar, perubahan lah yang abadi.

Tulisan oleh: Andre Pradiktha

Panel-panel dalam kompetisi:






Wednesday, August 20, 2014

AUB #52 by Andre Pradiktha


Kemarin (8/8), saya sempat berbicara di acara AUB (architects under big three) yang diselenggarakan oleh popo danes architect. AUB kali ini sudah tahun ke empat dan berseri aub #52. Pada kesempatan itu saya berbicara tentang arsitektur, dengan tema architecture under new wave yang, bercerita tentang kemungkinan dan apa yang akan terjadi pada arsitektur di masa depan, saya juga menjabarkan kronologi kehidupan manusia mulai dari zaman purba hingga sekarang yang merepresentasikan ide saya tentang esensi arsitektur. saat acara berlangsung beberapa teman dari firma-firma arsitektur di Bali datang, termasuk teman-teman di popo danes, selain itu ada juga mahasiswa arsitektur udayana yang hadir dari berbagai angkatan, namun dengan topik ini acara tidak terlalu ramai, mungkin saya kurang gencar dalam mempromosikan acara ini. Beberapa pertanyaan dan tanggapan yang dilayangkan ternyata memancing diskusi yang terjadi setelah acara berlangsung. Kiranya teman-teman saya over-estimate tentang topik yang saya usung akan membicarakan hal-hal mengenai desain secara spesifik, maupun dunia keprofesionalan yang mungkin dijalani di masa depan. ternyata saya hanya memberikan gambaran maupun inspirasi tentang perjalanan arsitektur dan teknologi masa depan. Hal ini memang saya sengaja tampilkan untuk memancing pertanyaan dan sebenarnya untuk menarik minat lebih banyak orang untuk datang, namun hal ini pun tidak berhasil pada kenyataannya. Seperti halnya pada film box office, trailer-nya akan lebih terlihat keren dari pada film aslinya, mungkin itu juga yang sebenarnya terjadi pada acara kali ini. Terlepas dari hal itu sebenarnya topik yang luas yang saya bicarakan kala itu justru mendorong hadirin untuk berpikir dan intropeksi tentang kehadiran arsitektur dari masa ke masa, khususnya bangunan di kehidupan kita, bagaimana sebenarnya arti asli arsitektur, kenapa kita terpaut dengannya, kenapa arsitektur berkembang, dan dunia politik di bumi yang memengaruhinya, semuanya saya jabarkan dengan luas dengan tujuan membuka cakrawala teman-teman saya seluasnya, supaya mereka tidak berpikiran tentang kerja saja secara sempit, namun bagaimana mengaktualisasi ide, bagaimana mereka dapat berkarya dengan sepenuhnya sembari bekerja sebagai arsitek. intinya saya memberikan bocoran tentang masa depan yang saya ketahui kepada mereka, meskipun mungkin mereka sudah tahu, namun saya berusaha menghimpun dan menjadikannya narasi dari pandangan saya.
Panitia juga bertanya kepada saya tentang tantangan sebagai arsitek di masa depan, khususnya di Bali yang semakin lama semakin sulit dan banyaknya pesaing yang masuk karena demand/permintaan properti di Bali yang meningkat tahun-tahun belakangan. Mereka juga bertanya dan menanggapi tentang asean MRA, dan AFTA yang berlaku 2015 dan dampaknya kepada keprofesian arsitek. Pada akhirnya saat itu adik-adik mahasiswa yang datang akhirnya terpapar pada radiasi kelam dunia keprofesian arsitek yang semestinya tidak perlu mereka ketahui dan pikirkan dimasa mereka bereksplorasi di bangku kuliah, pada saat itu semuanya akhirnya bisa sharing dan saling belajar.

Lately (8/8), i was talking at Architects Under Big Three (AUB) held by popo danes architect in Bali. In the time i was discussing about architecture in the theme of architecture under new wave, which explain about future possibilities of architecture, also i mentioned about historical chronology about the human lifetime with their culture and building architecture in the essence. Some friends from other firms in Bali also coming, with architects working in popo danes, and students of udayana university. However in this occasion, there aren't enough crowd visiting my presentation, probably it is my mistake that i haven't get enough promotion about the activity. Some questions are quite interesting come from my fellows, in fact my friends are over estimating about the topic i presented that time, they thought about something specific about my design ideas and professional experience, the reality i only gave them pictures, and inspiration of what the topic might directed in general. This moment is quite similar to box offices trailers, which you need only to see them to know the entire coolness of a film, possibly. Along side with that situation, my intention was only to ignite their paradigm of late architecture and to  expand their knowledge, which probably they have already know, yet in this case at least i can tell them in my point of view, based on my narrative-descriptive presentation.
The organizer of AUB also try to give my question and comments about the topics, some of them point about the future profession proofing in Bali, that is harder time to time. They also commented on ASEAN MRA and AFTA plan and its impact to architecture field. In the mean time, students who were also hear the presentation and discussion also exposed to this 'kind' matter which is might be improper to their time being to study, however all the participants including me have a well-shared information an discussion at that night.

Presentation here:

Friday, January 3, 2014

Andre Pradiktha's 2014 Reel

3/1/2014

--

South Bali Development

this video present six core developments to alter the rapid development of south Bali mainly in tourism that is not sustainable to public facilities development that's collective funded rather than from sole sectors (private or government). the development would be sustainable because increased order of balance from the new core development to existing tourism development. in easy word, these development would facilitate the near-limit tourism development in south Bali.

--


Wednesday, January 1, 2014

Ekspansi Bandara Internasional Ngurah Rai Denpasar (WADD)

Pesatnya perkembangan Bali Selatan telah mendorong batas puncak fasilitas transportasi udara seperti bandara. Pada tahun 2010, pemerintah Bali memperluas bandara untuk memiliki terminal yang lebih besar, termasuk terminal internasional baru 65000 meter persegi . Seperti tahun lalu , keramaian dan hiruk pikuk Ngurah Rai International Airport Bali didorong lagi hingga batas kapasitas akhirnya , yang memaksa pemerintah untuk memilih untuk mengembangkan bandara baru ini untuk membagi trafik udara yang padat . Bandara baru yang direncanakan di Bali utara pada tahun 2013 . hasil yang diharapkan adalah untuk mempercepat pembangunan Bali secara keseluruhan , bukan hanya di wilayah selatan. Tapi ketika tuntutan transportasi udara terus naik , hal memberikan pilihan yang sangat terbatas solusi apakah akan dibangun bandara internasional besar lain , atau menemukan konsep baru perluasan bandara sebelumnya.
Pertanyaan pertama adalah bagaimana mengakomodasi aliran lebih besar dari jumlah pesawat dengan melayani lebih parkir , dan lebih landasan pacu untuk mendarat . Dengan demikian perpanjangan ini konsep masa depan Bandara Internasional Ngurah Rai akan menambah runway sepanjang 4000m lain mampu mengambil pesawat seperti A380 atau dua pesawat kecil yang bisa tinggal landas dalam waktu bersamaan. runway baru ini akan lebih baik untuk dibangun di lepas pantai tidak dengan reklamasi pulau pasir , melainkan menciptakan platform struktur baja buatan manusia yang tidak bisa menghalangi gelombang yang bisa merusak pantai dekat Kuta dan teluk Jimbaran . Struktur baja ini ditanamkan ke dasar laut dan kemudian terumbu karang bisa muncul antara celah struktur baja .Setelah perluasan landasan pacu selesai , ekspansi berikutnya akan menjadi terminal ketiga di bagian selatan dari perimeter bandara . Ukuran terminal kira-kira 40000 meter persegi dan mampu menangani penerbangan baik internasional ( pindahan ) maupun domestik.

The rapid development of South Bali has pushed the boundaries of public transportation such as airport to their limit capacity. In 2010, Bali government expand the airport to have bigger terminals, including new 65000 sqm international terminal. As the year past, hustle and bustle of the Ngurah Rai International Airport Bali is being pushed again to the limit of thr capacity, that it force the government to opt for developing a new airport to divide these dense air traffics. The new airport was planed to be in Northern Bali in 2013. the intented result should be to accelerate the Bali development as a whole, not just its southern region. But when the demands of air transportation continued to rise, then it gives very limited choice of solution whether to built another big international airport, or to find a new concept of the expansion of the prior airport. The 
first question is how to accomodate bigger flow of airplanes quantity by serving more parking, and more runways to land. Thus this extension future concept of Ngurah Rai International Airport would be adding another 4000m runway capable of take up like a double decker a380 or two smaller planes that could take-off linearly in a time. This new runway would be best to build off coast not by reclaiming island of sand, but rather creating platform of man made steel structure that could not obstruct waves that could tear up nearby Kuta beach and Jimbaran bay. These steel structures are implanted to the sea bed and then the coral reef could spring up between the rift of steel structure. After the runway expansion finished, the next expansion would be the third terminal in the south part of the airport perimeter. The size of the terminal is approximately equal to 40000 sqm and capable to handle both international (transit) and domestic flights.